Dandelion cover

|| Cast. BTS’s Kim Taehyung and A pink’s Oh Hayoung ||

|| Genre. AU, Fullf, Romance and Life||

 

Disclaimer : I don’t own anything these casts but stroryline pure inside my idea

 

|| Length. +1500w (one shot) || Rating. Teen ||

 

Summary : Describing you ; like Dandelion flower

Dandelion by Dinuts

cover by BaeLyrii 

 

“ Filosofi bunga dandelion ? maksudmu?”

“ Oh, jadi kamu belum tau ya?”

“ Hmm, yaaa dandelion adalah bunga liar yang tumbuh tidak jauh dari rerumputan, memangnya apa lagi?”

Ada yang lebih dari itu – Nanti kamu juga tau.”

Irlandia masih sama seperti yang dulu. Di daerah pedesaan pinggir kota Dublin yang masih menyimpan banyak hal termasuk kenangan di masa kecil, Kim Taehyung adalah orang yang masih merasakan hal demikian. Selama lebih dari satu dekade di usianya dulu, ia sudah mengenal kota ini dan merasakan pergantian empat musim yang membuat dirinya sudah tak lagi asing – Dublin adalah kota kelahirannya.

Taehyung menapaki jalanan di desanya menuju ke rumah nenek yang ia rindukan selama lebih dari sepuluh tahun lamanya. Rumah yang masih didominasi oleh kayu-kayu jati berwarna coklat yang senantiasa dijaga warna alaminya oleh sang empunya itu, membuat Taehyung semakin tidak bisa melupakan kenangannya dulu.

Tidak lupa, rumah di sampingnya yang kini sudah berganti warna cat menjadi kuning natural.

Terbesit di benaknya untuk mengunjungi rumah itu sekali, selama ia beberapa hari berada di sini. Kabarnya gadis itu – Oh Hayoung – masih tinggal di sana.

“ Kau sudah datang, bagaimana perjalanmu?”

Wanita paruh baya yang menyapanya di ambang pintu itu adalah neneknya Taehyung. Jelas sekali di wajah nenek itu, bahwa ia sangat senang kedatangan cucu yang sudah lama tidak kemari.

“ Aku sudah tidak lagi phobia dengan ketinggian,” Taehyung tersenyum, ia melangkahkan kakinya untuk segera masuk. Sesaat Taehyung terdiam melihat keadaan rumah. “ Apa ini tidak pernah dirubah sama sekali?” kedua mata Taehyung masih melirik ke seluruh isi prabotan di ruangan itu.

Nenek Taehyung mengangkat kedua bahu sambil mengenakan jam tangan silver di pergelangan tangan kanannya. “ Entahlah, aku lebih suka keadaan yang seperti ini.”

“ Kau mau pergi kemana nek? Bukankah aku baru sampai.”

Nenek Taehyung menatapnya dan mendesahkan napas berat. “ Sudah dua hari ini kakekmu belum pulang juga. Nenek sudah biasa seperti ini, dan begitu juga kakekmu.”

Dua tahun yang lalu, keluarga Kim mendapatkan kabar bahwa ayah dari ayahnya Kim Taehyung sakit hingga menderita kepikunan. Bahkan Taehyung sendiri belum pernah sama sekali melihat keadaan kakeknya semenjak sakit.

“ Baiklah, kau hati-hati nek. Sepertinya akan turun hujan, jangan lupa membawa payung.” Taehyung berpesan, dan sang nenek mengangguk paham. Dengan jaket dan payung yang dibawanya ia pergi meninggalkan Taehyung sendirian di rumah.

 

“ Jadi selama ini kamu berbohong padaku?”

“ Berbohong ? Soal apa?”

“ Kamu akan pindah ke Seoul dalam tiga hari ini kan ?”

“ Bagaimana kamu tau?”

“ Aku benci padamu Kim Taehyung! Jangan pernah mengajakku bermain lagi.”

 

Sama halnya dengan keadaan rumah yang tak pernah berubah, foto-foto kenangan masa lalu Taehyung saat berusia enam tahun masih terpajang apik di sebuah meja dekat jendela, dan foto dirinyalah yang paling mendominasi.

Lemari kaca yang pinggirannya dilapisi kayu sudah agak-sedikit-lapuk karena termakan usia, juga masih ada di ujung dekat tangga. Memamerkan beberapa piagam penghargaan seluruh keluarganya dulu.

Ujung bibir kanan Taehyung terangkat di saat ia melihat piala turnamen futsall di kelas lima sekolah dasar – timnya meraih gelar juara satu – dan saat itu Taehyung dipercayai sebagai kapten untuk memimpin timnya tersebut.

Jika tidak salah mendengar, telinganya baru saja menangkap sebuah suara. Decitan suara pintu yang bergeser dengan lantai rumah menimbulkan bunyi yang tak karuan hingga akhirnya Taehyung menoleh ke arah pintu tersebut.

“ Siapa?” teriaknya.

Taehyung menghapiri dengan langkah pelan. Memastikan bahwa orang itu bukanlah maling atau orang jahat.

“ Permisi.” Seseorang dibalik pintu membuka suaranya bersamaan dengan wajahnya yang sudah tampak namun setengah tubuhnya masih tersembunyi di luar.

Karena Taehyung tidak menyimpan perasaan curiga, ia segera membuka pintu tersebut dan membiarkan orang itu berbicara dengan dirinya.

“ Kau siapa? Dan ingin bertemu dengan siapa?”

Adalah seorang gadis yang masih mengenakan seragam sekolah dengan rambut dibiarkan terurai hingga angin – yang tanpa permisi – membuat rambutnya bermain ke sana- ke mari.

Taehyung menaikan kedua alisnya ketika gadis itu memberikan rantang makan yang tersusun rapi ke arahnya.

“ Ibuku memberikan ini untuk…” gadis itu sempat memutuskan kalimatnya yang menggantung, dan empat detik kemudian ia melanjutkan “… nenek yang ada di rumah ini.”

Dikala itu Taehyung sedikit berhalusi – apa gadis yang sedang ada dihadapannya benar Oh Hayoung yang sudah beranjak dewasa – mengingat terakhir mereka bertatap muka adalah di saat usia Hayoung menginjak sepuluh tahun.

Matanya masih jelih melihat nametag yang terpasang di seragam itu, Oh Hayoung.

Setelah rantang makanan berpindah tangan, gadis itu berbalik untuk segera pergi. Taehyung belum sempat mengucapkan terima kasih sesaat setelah ia tersadar ; bahwa gadis itu benar Oh Hayoung.

“ Mampirlah sebentar,” bersamaan dengan suara Taehyung yang sedikit parau, gadis itu menghentikan langkahnya. “ Kau bahkan belum mengucapkan selamat datang untukku.”

 

“ Kamu masih marah padaku?”

“ Bukankah sudah kubilang, jangan mencoba bicara padaku lagi, Tae!”

“ Oh ya, waktu itu kan kamu pernah menanyakan tentang dandelion padaku, mau dengar jawabanku tidak?”

“ Tidak!”

“ Yakk! Hayoungkamu mau kemana, Hayoung!!!”

 

Bagi Kim Taehyung, Hayoung banyak mengalami perubahan dalam dirinya. Ini sudah hampir sepuluh tahun ia tidak pernah melihat atau lebih tepatnya berada didekat Hayoung.

Gadis itu sudah menjadi lebih cantik, suaranya juga sudah berubah, dan ini pertama kalinya Taehyung melihat rambut Hayoung tergerai indah.

Mereka duduk berhadapan. Di meja makan yang berbentuk persegi panjang ini, Taehyung baru saja menyajikan teh rosemary hangat kesukaan ia dan neneknya. Pikirnya, jika ia menyajikan teh itu, suasana tidak akan menjadi canggung.

Hayoung masih tertunduk menatap cangkir teh di depannya yang masih berasap karena panas. Begitu juga dengan Taehyung, sesekali ia menyesapi aroma teh buatannya dan mencicipinya sedikit.

“ Bagaimana keadaanmu dan bibi-Oh?” Taehyung membuka percakapan.

Hayoung mencoba menatap lawan bicaranya, “ Ibuku ? dia baik-baik saja, begitu juga denganku,” sayangnya, Hayoung tidak bisa menatap Taehyung lebih lama lagi. Ia segera menunduk melihat teh yang asapnya tidak mengepul lagi. “ Kemarin kami baru saja mendatangi pemakaman ayah.” Lanjutnya.

“ Kau masih menggantungnya di sana?” jari tangan Taehyung menunjuk objek benda yang di maksud. Tepat di luar jendela, ia melihat boneka yang tak asing baginya tergantung di tembok samping rumah Hayoung. “ Dan mengapa ada dua?”

Boneka itu adalah pemberian Taehyung saat Hayoung merayakan ulang tahunnya yang ke sembilan. Dan pada saat itu, Hayoung memutuskan untuk menggantungnya di sana.

“ Ia kesepian, dan aku tidak tega. Maka dari itu aku menggantung yang lainnya di sana.”

Mendengar jawaban Hayoung, Taehyung sedikit tersenyum sinis. Entah mengapa ia merasa jika nasib boneka itu sama seperti Hayoung atau mungkin dirinya. Bahkan selama hidup di Seoul, Taehyung cenderung menjadi anti-sosial. Suasana di Seoul berbeda dengan Dublin.

“ Ini sudah lebih dari sepuluh tahun, Hayoung.” Taehyung mendesah, hanya karena masalah boneka yang masih utuh di sana, namun warnanya sudah mulai memudar seiring pergantian musim.

“ Lalu menurutmu, apa itu filosofi dandelion? Apa kau masih mengingat hal itu?” Hayoung tiba-tiba saja ‘menembak’ sebuah pertanyaan yang membuat Taehyung lekas terdiam.

Itu adalah pertanyaan masa lalu, dan apa Taehyung harus memberikan jawaban yang di masa lalu juga. Taehyung hanya menatap cangkir berwarna cream miliknya, tehnya sudah berkurang setengah. Namun orang yang memberikan pertanyaan masih menunggu jawaban darinya.

Langit sudah mulai gelap, dan awan pekat berwarna hitam sudah menumpahkan air bahnya tanpa tanggung-tanggung. Taehyung merasa bersalah dengan Hayoung, kerenanya, Oh Hayoung belum pulang ke rumah. Belum lagi Ibunda Hayoung yang pasti khawatir, mengapa anaknya belum pulang ke rumah.

“ Aku akan mengantarmu pulang.”

“ Tiii-“

Tanpa mendengar jawaban dari Hayoung, Taehyung lekas pergi ke gudang mencari payung cadangan milik neneknya. Dan sialnya, payung yang ia temukan itu sudah memiliki sedikit lubang di bagian tengahnya.

Ia menghampiri Hayoung yang sedang menunggu di ambang pintu, “ Sepertinya kondisi payungnya kurang baik,” Taeyung melepaskan jaket yang ia kenakan dan memberikannya pada Hayoung. “ Pakai ini, untuk menutupi kepalamu.”

Segera Taehyung membuka payung tersebut dan mengajak Hayoung untuk jalan di sampingnya.

“ Apa airnya membasahi kepalamu?”

“ Tidak.” Hayoung menggelengkan kepalanya.

Letak rumah Hayoung hanyalah lima meter dari rumah neneknya Taehyung. Tapi karena ukuran payung yang sangat mustahil untuk dua orang dewasa, ditambah kondisi payung yang kurang baik, perjalanan mereka seakan-akan menempuh perjalanan yang jauh.

Ditengah perjalanan, Taehyung memegang tangan Hayoung untuk mengisyaratkan berhenti.

“ Oh, ada apa?” tanya Hayoung, sesegera mungkin Taehyung berpindah menghadap Hayoung yang membuat punggungnya sedikit-demi-sedikit terkena tetesan air hujan.

“ Aku akan menjawab pertanyaanmu tentang dandelion.”

Dan di saat itu juga, Hayoung menatap matanya lekat. Hayoung bisa merasakan deru napas Taehyung yang hangat, membuat ia tidak merasakan kedinginan atas hujan.

“ Hmm, jawablah.”

Dandelion adalah bunga yang mempunyai fisik yang cepat rapuh karena angin, namun dia akan tumbuh kembali di tempat yang baru karena benihnya yang terbang dan jatuh dimana saja. Maka dari itu, aku selalu menggambarkan bahwa kau adalah dandelion yang selalu ada dimana-mana. Di saat aku mulai lupa, kau akan muncul kembali. Dan aku merasakan hal itu di Seoul. Aku-merindukanmu- Oh Hayoung.”

Penjelasan panjang yang membuat Hayoung mengerti akan satu hal, Kim Taehyung masih sama seperti yang dulu.

“ Ya? Apa maksudmu?”

Taehyung paham, sebenarnya Hayoung sudah mendengar jelas, apalagi pada kalimat terakhir.

“ Pagar rumahmu hanya tinggal dua meter lagi, aku hanya mengantarmu sampai di sini,” lantas Taehyung mengangkat tangan Hayoung untuk memegang payung itu. “ Bawalah, kau akan sakit jika kehujanan.”

Hayoung melihat Taehyung yang lama-lama menjauh berjalan mundur, membiarkan rambut dan juga tubuhnya kuyup karena air hujan. Ia terus memberikan senyuman untuknya, dan tentu saja senyuman itu dibalas hangat oleh Hayoung.

“ Aku juga merindukanmu, Kim Tehyung.”

fin.

Notes :

–        Irlandia adalah negara dari sebagian wilayah di kelompok Britania Raya (UK) dan ibu kotanya adalah Dublin.

–        Dandelion sejenis bunga kapas yang juga banyak terdapat di Indonesia, ia tumbuh liar dimana saja. Jadi bunga kapas ini  mudah ditemukan.

–        Percakapan yang dibatasi strip (—) adalah flashback mereka di masa kecil.

Iklan

2 pemikiran pada “[One Shot] Dandelion

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s